Semarang by Night, Wisata Malam Kota Semarang
Pemandangan Kota Semarang Di Waktu Malam dari Bukit Sari
Kota Lama, dengan gedung-gedung cagar budaya yang dilindungi, berada di wilayah Semarang Bawah yang tidak jauh dengan pelabuhan Tanjung Emas, pesisir pantai Utara. Banyak gedung-gedung kuno buatan arsitektur Belanda dengan gaya Eropa sekitar abad XVII-XVIII, dibangun pada tahun 1753 di lokasi Semarang Bawah mulai dari Stasiun Poncol, Stasiun Tawang, Gedangan, Gereja Blenduk, Kantor Pos, Kawasan Pasar Johar, Seputaran Tugu Muda. “The Little Netherlands” (Belanda Kecil) itulah sebutan untuk Semarang Kota Lama.
Pertama kali yang kami kunjungi adalah Taman Tabanas di Gombel. Dari taman ini, kelap-kelip kota Semarang terlihat indah dilihat di mata. Tetapi tidak indah di angle kamera karena terhalang oleh restoran dan bangunan rumah penduduk. Karena itu, kami lalu pindah menuju ke “Amazing View” di kawasan Bukit Sari yang terkenal dengan banyak antena TV/FM/Radio Komunikasi tertancap di puncak bukit.
Berdiri di Amazing View, kota`Semarang tampak seperti karpet pemadani yang digelar indah dengan rajutan lampu-lampu kelap-kelip. Ratusan ribuan lampu-lampu yang menyala serentak secara acak dan linear, mempertontonkan keindahan Semarang di waktu malam. Jika di waktu siang horison laut kelihatan nyata memisahkan daratan dan lautan, di malam hari, garis itu hilang dan hanya ditandai dengan terang benderang lampu pelabuhan.
Semarang di waktu malam, belumlah lengkap kalau tidak jalan ke seputaran Simpang Lima, Tugu Muda dan Kota Lama. Setelah puas memandang Semarang di daerah Gombel, kami pun meluncur ke bawah di Simpang Lima. Sayang sekali kami tidak bisa parkir di sepanjang jalan A Yani yang dulu menjadi pusat keramaian masyarakat di waktu lama. Larangan parkir di sepanjang jalan itu tampak menyolok hingga menyurutkan niat kami untuk berhenti.
Tugu Muda Dipercantik dengan Air Mancur
Kami menikmati suasana malam di Tugu Muda cukup lama. Selain foto-foto juga bersenda gurau dengan latar belakang air mancurnya. Dari taman itu, saya bisa melihat keindahan malam beberpa gedung seperti Lawang Sewu, Gedung Walikota, Gedung TNI, dan Gereja Katedral. Seni lighting yang ditata sangat apik menyinari gedung-gedung itu ternyata menambah suasana “ngangeni” terhadap Semarang. Beruntung saat itu hujan tidak mengguyur hingga kami puas menikmati suasana malam.
Dari kawasan Tugu Muda, kami melanjutkan ke kota Lama dengan fokus utama pada Gereja Blenduk yang dibangun pada tahun 1753 dan rehab kembali pada tahun 1787 oleh duet arsitek Belanda, HPA De Wide dan W Wesimas. Sentuhan tangan mereka, memunculkan kubah yang mblenduk dan menara di kanan-kirinya. Ketika saya tiba di gereja Blenduk ini, terlihat banyak fotografer berkumpul di depan gedung dan kemudian melakukan session foto dengan latar belakang gereja itu.
Gereja Blenduk, Dibangun Pada Jaman Belanda
Malam itu sungguh saya puas menikmati Semarang di waktu malam. Banyak orang datang ke Semarang untuk melihat obyek-obyek wisata seperti Klenteng Sam Pook Kong, Mesjid Agung, Gereja Blenduk, Pantai Marina, Watu Gong, atau keramaian Simpang Lima. Atau, ke Semarang untuk berburu kuliner seperti Lumpia, Bandeng Presto, Wingko Babat dll yang tersentral di Jalan Pandanaran. Pada hal Semarang di waktu malam, sangat indah dinikmati.
Jalan Arteri, Semarang Bawah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar